Give Me Oil in My Lamp, I Pray

Seperti biasa yang kami lakukan setiap tahun dalam perayaan ulang tahun anak kami terkasih Jocelyn Irvana Anastasia Hutagalung, atau yang sering dipanggil Joan, dalam ulang tahun yang keempat ini, kami juga ingin bercerita tentang pengalaman yang kami alami sebagai sebuah keluarga didalam membesarkan Joan didalam kasih Tuhan.

Puji Tuhan, Joan banyak perkembangan, terutama dari respond yang ditunjukkannya. Joan sudah mulai belajar fokus, sehingga ketika namanya dipanggil, dia sudah mampu menoleh. Respon ini juga termasuk responnya terhadap sesuatu yang tidak dia suka. Lebih gampang marah. Kami sangat bersyukur buat semua ini.

Satu hal yang kami tidak bisa pungkiri, Joan sangat manja. Hal ini banyak menghambat perkembangannya, karena dia malas sekali menegakkan kepalanya ataupun badannya. Anehnya, bila kami nonton tv bersama dan cuek dengan Joan, tanpa kami sadari dia duduk dengan tegak cukup lama dipangkuan. Namun ketika kami mulai perhatian lagi ke Joan, dia kembali menjatuhkan badannya. Lucunya, dia tau mau jatuh ke kiri, ke kanan atau ke belakang. Pokoknya dimana dia yakin ada sandaran, dia menjatuhkan kepalanya ke arah itu. Kami pun kadang tidak tega membiarkan dia sendiri. Joan langsung marah kalau dibiarkan terjatuh, walaupun diatas kasur. Dia akan teriak dengan muka yang sangat jelek, jidatnya berkerut. Kami pasti cepat-cepat angkat kalau dia sudah mulai ngomel.

Dipertengahan tahun, Joan kembali di EEG. Kami yang meminta pada dokternya, karena berdasarkan kasat mata kami banyak kejut-kejut Joan. Memang kadang kejut itu kalau Joan di foto dengan blitz, atau kalau digerak-gerakkan tangannya bernyanyi saat dia tidak mau, atau saat hari-hari dia kurang tidur karena udara yang kurang bersahabat dengan riaknya atau karena suara yang keras. Dan ternyata benar, hasil EEG mengindikasikan semakin banyak kejut Joan. Dengan lapang hati kami mencoba menerima kenyataan. Kami berusaha berpikir positif kalau itu semua karena respon Joan yang semakin banyak, yang kadang tak mampu ia kontrol.

Satu hal yang baru dalam tahun ke empat ini, Joan boleh merasakan natal dengan pohon natal. Ketika baru tiba di rumah dari membeli pernak-perniknya, langsung kami pasang walaupun sudah larut malam. Joan pun ikut menunggu tanpa kantuk. Ketika selesai, kami matikan lampu. Kami nyalakan lampu pohon natal itu. Dengan lampu yang bervariasi, saat padam, Joan menoleh ke dapur, saat menyala, Joan menoleh ke pohon natal. Bahkan dia membesarkan matanya kearah pohon natal, saat lampu bekerlap-kerlip. Haleluya. Jujur, walau kadang kami bilang Joan sudah melihat, kadang kami ragu. Karena kadang Joan tidak fokus, dan seolah tidak melihat. Namun Tuhan menjawab keraguan itu, begitu indah, di depan pohon natal merah jambu untuk Joan. Kami tutup acara melihat pohon natal itu, dengan doa. Terimakasih Tuhan.

Kami juga mulai membawa Joan jalan-jalan bertamasya. Ke Bandung dan ke Bali tahun ini. Joan tidak cocok di Bandung yang dingin. Tapi ketika kami bawa ke Bali, dia sangat senang. Tidur dengan pulas, sering tersenyum dan terlihat nyaman. Semua hal diatur Tuhan sehingga tamasya kami semua lancar dan nyaman.

Satu hal yang kami tetap kami sadari, Tuhan selalu bekerja untuk kebaikan Joan.

Jujur, akhir-akhir ini kami sadar kami kurang dekat dengan Tuhan. Seperti judul dari kesaksian ini Give Me Oil in My Lamp, itu adalah hal yang terutama dalam tahun ke 4 anak kami. Begitu lama terasa penantian itu, sehingga kadang kami merasa terkondisi dengan keadaan Joan. Kami menanti cukup lama, menurut ukuran waktu manusia kami. Bertubi-tubi rasanya kekecawaan, walau kadang kami tidak boleh meluapkannya dengan tangis, terutama ketika sedang beramai-ramai. Kami mengobatinya dengan berkata, sudahlah. Tidak sembuh pun tidak apa-apa kok. Tanpa kami sadari, pada saat yang sama, kami telah membatasi kuasa Tuhan. Kami kembali pada pikiran manusia kami. Apa masih mungkin Joan sembuh? Tidak sembuh pun tidak apa-apa kok. Kami sayang Joan.

Dengan berat badan Joan yang bertambah, kadang terasa melelahkan menggendong dia di escalator menuju ruang sekolah minggunya. Kadang kami dengan gampang memutuskan tidak membawanya sekolah minggu. Sudahlah, pikir kami. Apa memang benar ada gunanya?

Bahkan setiap kali Joan mulai kejut-kejut, kami diam dan memeluknya dalam kesedihan. Tidak kami pungkiri, kepasrahan itu muncul, keyakinan itu turun. Sudah terlalu lama Tuhan. Mungkin itu jeritan hati kami sebagai orang tua Joan.

Satu hal yang tersulit, apapun yang kami katakan tentang perkembangan Joan, sulit buat bisa dipercaya. Bahkan sulit juga untuk meyakinkan betapa berartinya itu bagi kami, karena orang lain selalu menganggap itu semua sepele, dan……. tidak masuk akal. Ah…

Kami mengucap syukur kalau Tuhan itu tetap ada dalam hati kami, dan Dia yang mengingatkan kami untuk kembali mendekat pada-Nya. Masih berbekas rasanya, bagaimana indahnya semua hal ketika Tuhan ada dalam hati dan pikiran kami. Ketika hanya terfokus pada Tuhan, semua selalu dapat menjadi sukacita, bahkan dalam keadaan terjelek sekalipun. Give Me oil in My Lamp, Lord, I Pray.

Dengan kerendahan hati, saat 4 tahun anak kami, kami mohon, doakan kami sebagai orang tua Joan untuk tetap kuat dan tegar. Untuk kami tetap bisa bersandar pada Tuhan, dan yakin akan kuasa-Nya yang besar, yang mampu melakukan hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh manusia. Ajar kami untuk benar-benar bersyukur dan percaya kalau rencana Tuhan pasti indah.

Terimakasih Joan. Mama dan Papa tahun ini belajar, Arti Kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dan bahwa Tuhan kita besar kuasanya.

Ya Tuhan, ajarlah kami untuk memiliki hati yang setia. Setia dalam segala keadaan yang kau ijinkan terjadi dalam kehidupan kami. Ajar kami untuk terus berjalan di jalan-Mu, dalam keadaan apapun yang menimpa kami. Ajar kami percaya akan pemeliharaan-Mu dalam kehidupan kami. Berikan kami kekuatan, untuk dapat setia dalam jalan-Mu, dan tidak berpaling dari-Mu. Karena hanya dengan kekuatan yang dari pada-Mu saja kami dapat mengusir rasa kesal, kecewa dan putus asa, dan menggantikannya dengan kesetian dan kepercayaan akan kasih-Mu. Terimakasih Tuhan, buat hidup yang telah Kau berikan hingga hari ini. Ke dalam tangan-Mu kami percayakan seluruh jalan hidup kami.

Give me oil in my lamp, keep me burning (burning, burning)
Give me oil in my lamp, I pray (Hallelujah!)
Give me oil in my lamp, keep me burning (burning, burning)
Keep me burning ’till the break of day

Sing, “Hosanna!”, sing, “Hosanna!”
Sing, “Hosanna!” to the King of kings
Sing, “Hosanna!”, sing, “Hosanna!”
Sing, “Hosanna!” to the King