Cerita kelahiran Joan: Ketika kita hanya bisa berserah pada Tuhan

Di sini kami mau berbagi cerita kelahiran Joan. Cerita ini bukanlah sebuah cerita manis yang penuh tawa, tapi juga tidak diharapkan menjadi cerita sedih yang mengundang tangis. Kami hanya mau berbagi, supaya semua orang yang membacanya bisa mengambil makna, yang mungkin berbeda untuk setiap orang.

Sebelum kelahiran

Tidak ada yang aneh dengan kehamilan Eva, karena dalam setiap pertemuan dengan dokter, tidak pernah ditemukan masalah yang berarti. Oh ya, dokter kandungan Eva adalah dokter Winahyo, di RS MMC Kuningan, Jakarta.
Sejak awal, kami sudah berencana untuk Eva melahirkan normal, bukan caesar. Jadi, tidak ada hal istimewa yang disiapkan.

Proses kelahiran

Sebagai pasangan yang belum punya anak, kami sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan kami hadapi dalam proses persalinan. Jadi, kami meminta ibunya Eva untuk datang dari Medan, pas sewaktu minggu ke-40 kehamilan

Tanggal 22 Juli 2003, dini hari, sekitar jam 2, Eva merasa ada cairan yang keluar. Karena tidak banyak, kami mengira itu hanyalah flek biasa. Jadi, tidak ada hal yang kami lakukan.

Aku masih sempat pergi ke kantor hari itu. Ibunya Eva sampai dari Medan sekitar jam 2 sore, dan dia menganjurkan untuk pergi ke RS untuk dicek. Jadinya, aku pulang dari kantor sekitar jam 3 sore, dan sekitar jam 4 sore kami ke MMC.

Ternyata, ketuban Eva sudah pecah. Hanya saja, belum ada bukaan sama sekali. Jadi, atas saran dokter, Eva mendapatkan infus untuk memancing pembukaan (induced opening). Karena proses ini bakal lama, ibunya Eva minta aku pulang untuk istirahan, dan datang lagi malamnya. Jadi, gantian gitu. So, aku pulang, dan istirahat.

Sekitar jam 7 malam, aku kembali ke MMC, dan ibunya Eva kembali ke rumah. Pada saat itu, Eva sudah mulai gelisah, karena induced opening memang sakit dan tidak enak.

Sekitar pukul 9 malam, Eva tiba2 gelisah hebat dan badannya membiru, kekurangan oksigen. Denyut jantung bayi (DJB) langsung turun, terpengaruh. Dokter langsung dipanggil, dan langsung dipersiapkan untuk caesar (Section Caesarea – SC).

Operasi dimulai jam 10 malam, dan kami menunggu dengan cemas. Jam 10.30 operasi selesai, tapi tim dokter keluar dengan berita yang tidak menggembirakan. Dokter anak (Dr Semi Asti) menyampaikan, bahwa Joan lahir dengan APGAR Scale bernilai 1, yang artinya dia tidak menangis dan bernapas. Hanya denyut jantung nya yang terdeteksi. Perlahan APGAR Scale nya naik jadi 3, dan kemudian 5. Joan akan tetap dimonitor oleh dokter selama 1 jam ke depan, apakah perlu masuk ke ICU anak. Karena MMC tidak punya ICU anak, maka dipersiapkan juga kemungkinan untuk dipindah ke rumah sakit lain.

Mulai titik ini, cerita tentang Eva dan Joan bercabang, karena mereka harus melewati ujiannya masing-masing. Oh ya, berat Joan waktu lahir 3,5 kg dengan panjang 50 cm.

Cerita Eva

Setelah operasi selesai, beberapa lama kemudian, ternyata Eva mengalami perdarahan hebat. Asisten dokter Winahyo, dokter Gatot, yang mengawasi Eva, mengatakan bahwa perdarahan sudah terlalu hebat, jadi harus dioperasi kembali. Karena dokter Winahyo sudah capek dengan operasi pertama, operasi kedua dipegang oleh dokter lain (lupa namanya, lain kali akan di update). Aku lupa jam operasinya, yang pasti kami sangat khawatir sekali. Kondisi Eva sebelum operasi sudah kritis, sampai kami yang disana harus mengajak dia bicara supaya tidak tertidur, krn kalau dia tertidur berarti dia tidak akan bangun lagi … Kami ajak Eva bicara, berdoa, nyanyi lagu rohani, apa saja, sementara operasi disiapkan.

Operasi berlangsung lama, aku lupa berapa lama. Setelah selesai, tim dokter menyampaikan bahwa kondisi Eva kritis karena mengalami DIC (Disseminated Intravascula Coagulopathy), istilah kedokteran yang intinya, Eva mengalami perdarahan hebat sehingga faktor pembekuan darahnya terganggu. Jadi, walaupun operasi kedua dianggap berhasil berusaha menghentikan perdarahan, tapi Eva sudah sempat mengalami DIC, sehingga kondisinya tetap kritis dan perdarahan tetap berlangsung.

Setelah operasi ini, Eva masuk ICU, dan selama 7 hari berada di sana. Dokter tidak berani memprediksi kesembuhan, dan hanya meminta kami sekeluarga untuk berdoa. Yang bisa dilakukan oleh dokter hanyalah memberikan transfusi untuk mengganti darah, dan infus untuk mengganti cairan yang hilang.

Kondisi Eva pada awalnya sangat mengkhawatirkan, badannya biru dan dingin. Tapi perlahan-lahan kondisinya membaik. Perdarahan berkurang perlahan, kadar haemoglobin (HB) nya juga membaik. Benar2 mujizat TUhan, karena tim dokter juga sebenarnya sudah tidak bisa berbuat apa2.

Setelah 7 hari di ICU, Eva dipindah ke ruangan biasa selama 3 hari, baru kemudian diijinkan pulang.
Cerita Joan

Setelah melewati masa kritis 1 jam pertama, ternyata kondisi Joan membaik. Dia memang diberikan oksigen, tapi bukan alat bantu napas. Jadi hanya disemprotkan oksigen aja di sekitar inkubator nya, untuk meningkatkan kadar oksigen. Bahkan pada 23 Juli sore, keadaannya sudah membaik, dan tidak diberikan bantuan oksigen lagi.

24 Juli dini hari, jam 5 pagi, ternyata keadaan Joan memburuk. Dia sesak napas, sehingga harus diberi bantuan napas dengan alat. Karena MMC tidak memiliki ICU Bayi/Anak, terpaksa dicari rumah sakit lain. Satu persatu rumah sakit dicek, dan kebanyakan penuh. Untung RS MH Thamrin (di Salemba Tengah) bisa menerima. Joan langsung dilarikan ke sana dengan ambulans.

Di Thamrin, Joan langsung masuk ICU Bayi (Neonatal ICU – NICU), dan diberikan alat bantu napas. Tim dokter yang merawat termasuk Dr Praborini (Dr Rini) dan Dr Firmansyah. Dr Rini sejak awal sudah menyampaikan bahwa kondisi Joan kritis, karena mengalami Prolonged Hipoxia (kekurangan oksigen dalam jangka waktu lama) yang mengakibatkan tingginya pH darah akibat kelebihan CO2. Juga, karena kekurangan oksigen, tubuh berusaha memberikan kompensasi dengan memperbanyak suplai darah ke otak, yang justru mengakibatkan pembengkakan (oedema) di otak Joan, dekat otak kecil. Dokter mengharapkan seluruh keluarga berdoa untuk kesembuhan Joan.

Di tengah2 kondisi kritis ini, kami memanggil pendeta untuk membaptis Joan, supaya Joan dijaga oleh Tuhan. Joan pun dibaptis tanggal 24 Juli 2003, dengan nama Jocelyn Irvana Anastasia Hutagalung.

Hari kedua, dilakukan USG kepala lagi, untuk melihat kondisi otak. Ternyata pembengkakan sudah hilang. Tapi ada masalah baru, karena ternyata terjadi pelebaran ventrikel (Ventriculo Megali), yang bisa mengarah ke Hydrocephalus (kepala yang membesar karena cairan). Tapi salah seorang tim dokter, Dr Dwi Putro, mengatakan bahwa tidak ada kecenderungan menjadi Hydrocephalus, sehingga kami pun menjadi lebih tenang, walaupun pelebaran ventrikel itu sendiri dapat mengakibatkan gangguan perkembangan pada otak Joan.

Joan menggunakan alat bantu napas selama 7 hari. Selama 7 hari itu, tim dokter perlahan2 menurunkan kadar oksigen dari 100% hingga sampai 35%, sebelum akhirnya alat bantunya dicabut. Puji Tuhan.

Sehari setelah alat bantu dicabut, badan Joan tiba2 menjadi kuning. Setelah dicek, ternyata kadar bilirubin nya tinggi sekali (19,5). Karena hampir mencapai batas bahaya, diputuskan untuk melakukan transfusi tukar. Darah segar dimasukkan, sementara darah Joan dikeluarkan. Baru keesokan harinya dilakukan test darah lagi, dan kadar bilirubin Joan sudah kembali normal.

Mulai dari titik ini, sampai saat Joan keluar dari rumah sakit, kondisi Joan perlahan2 membaik. Selama 15 hari Joan ada di NICU, sebelum akhirnya dipindah ke ruang Perinatologi. Pengawasan 24 jam oleh tim suster masih dilakukan, tapi sudah tidak dilengkapi oleh alat2 bantu.

Tim dokter sejak awal sudah mengatakan bahwa melihat kondisi Joan yang sudah mengalami banyak hal (Prolonged Hipoxia, Ventriculo Megali, alat bantu napas, Hiper Billirubin, transfusi tukar), kemungkinan Joan akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan diukur secara fisik, sedangkan Perkembangan dilihat dari kemampuan otak. Salah satu contoh adalah Joan kehilangan refleks menghisap, yang membuat dia susah minum susu. Sampai hari terahir di rumah sakit, Joan menggunakan NGT (Nassal Gastro Tube, atau sonde) yaitu selang yg dipasang di hidung yang langsung terhubung ke perut. Susu dimasukkan dari selang ini, supaya Joan tidak kelaparan.

Fisioterapi dilakukan secara rutin sejak Joan pindah ke ruang Perina. Fisioterapi fisik, dengan menggerakkan tangan dan kaki, untuk mencegah otot2nya menjadi kaku dan untuk merangsang otak. Speech Therapy, untuk membantu menumbuhkan refleks hisap nya.

Setelah 46 hari di rumah sakit, Joan akhirnya bisa pulang. Puji Tuhan. Di hari terakhir, kami meminta dokter untuk melepas NGT dengan komitmen akan memberikan susu pada Joan dengan sendok. Capek memang, karena bisa makan waktu 1-2 jam untuk memberikan susu. Tapi demi perkembangan Joan, semua hal akan kami coba.

Joan 2 bulan (22 Sep 2003)

Tanggal 22 Sep 2003, Joan berumur 2 bulan. Sudah banyak perkembangannya, Puji Tuhan. Gerakan tubuhnya sudah mulai banyak, bergerak kesana kemari. Susu masih harus pakai sendok, dan kadang2 memang muntah. Walaupun berat badannya naik-turun, tapi kecendurangan nya meningkat. Sekarang beratnya 3,8 kg dengan panjang 55 cm. Ketika konsultasi dengan Dr Dwi Putro tanggal 17 Sep, kami diminta menunggu 1 bulan lagi sebelum terlihat apakah ada keterlambatan perkembangan, karena bayi berumur 3 bulan baru terlihat kemampuan melihat dan mendengar. Kami terus menerus berdoa supaya Joan diberikan kesembuhan sempurna dari Tuhan, sehingga dia bisa menjadi seorang anak yg normal.

Penutup

Keluarga kami benar2 merasakan betapa banyak berkat yang sudah Tuhan berikan bagi kami. Memang benar, rencana2 kami ke depan berubah total karena peristiwa ini. Memang benar juga, bahwa kami harus merasakan rasa sedih dan cemas. Tapi kami juga yakin bahwa kejadian seperti inilah yang justru mengajarkan kami untuk berserah pada Tuhan dan lebih mendekatkan diri padaNya. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dan keluarga kami sudah merasakan mujizat2 itu. Kami serahkan keluarga kami yang kecil ini pada Tuhan, karena kami yakin, Tuhan punya rencana yang paling indah buat kami.

Cerita ini tentu saja tidak berakhir di sini. Masih akan banyak lagi cerita mengenai keluarga kami, mengenai Joan. Jadi, sering2 lah datang ke website ini, untuk mendapatkan cerita selanjutnya. Bye!
– Irving