Dan pencobaan itu masih belum selesai …: Joan 3 bulan

Sudah lumayan banyak sebenarnya perkembangan Joan dibandingkan bulan lalu. Joan sudah mulai mau minum susu dari dot, diisap langsung dari dot, tapi memang harus dibujuk. Itupun kadang-kadang dia sama sekali ngga mau. Sisa susu nya selalu dihabiskan lewat sendok.

Jumlah susu yang diminum juga sepertinya tergantung mood juga. Kadang bisa habis 80cc cepat sekali, kurang dari 30 menit. Tapi bisa juga sampe hampir 2 jam, karena lebih banyak nangis nya daripada minumnya.

Slime (dahak) nya juga semakin sering mengganggu, tapi sekarang Joan sudah mulai pintar dan bisa membuang (membatukkan) dahaknya. Ada efek sampingnya juga sih, karena kalau baru selesai minum susu, jadinya susunya juga ikut keluar.

Fisioterapi di stop total, karena dr Dwi ngga mau Joan terlalu capek. Tapi speech theraphy tetap berjalan, walaupun cuman sebentar. Ibu Yuyuk (terapis) bilang ngga ada gunanya lagi speech theraphy nya karena sebenarnya Joan sudah bisa menghisap. Kalau dimasukkan jari ke mulutnya, pasti dihisap. Itu makanya kita berani coba pake dot, dan ternyata memang dia mau hisap juga. Jadi, speech theraphy juga sudah kita stop.

Sekarang dokter yang menangani Joan juga jadi banyak. Awalnya memang hanya dr Dwi (spesialis anak, konsultan saraf) dan dr Pudji (spesialis rehabilitasi medik). Tapi pernah karena Joan rewel, kami mau bawa ke dokter, ternyata dokter anak di RS Thamrin sedang tidak ada karena seminar. Jadi, Joan kami bawa ke MMC, dan ditangani oleh dr Sri Rochani. Dokternya sudah tua, tapi baik sekali. Dia bilang tidak ada masalah dengan rewel, tapi dia juga lihat yang lain-lain. Pusar Joan dia liat masih menonjol, terutama kalau dia nangis. Menurutnya bisa bahaya, karena bisa jadi hernia. Jadi, pusar Joan di masukkan ke dalam (ke perut) dan di plester supaya ngga keluar lagi. Katanya perlu waktu 1 bulan supaya pusar nya bisa seperti anak normal lagi (masuk ke dalam).

Dr Sri juga liat kalo struktur tengkorak kepala Joan agak ngga normal, karena ubun-ubun nya sudah tidak ada. Dr Sri curiga kranio stenosis, penutupan dini tengkorak kepala. Akibatnya, kepala bisa terhambat perkembangannya, yang akibatnya otak juga terhambat perkembangannya. Dr Sri mengusulkan kami konsul ke Prof Padmo, dokter bedah saraf. Sekedar informasi, Prof Padmo ini dokter yang melakukan operasi pemisahan kembar siam Yuliana-Yuliani dulu. Sayangnya Prof Padmo tidak bisa berbuat apa-apa tanpa hasil CT-Scan, sementara CT-Scan Joan masih di Medan. Jadi, terpaksa menunggu.

Sementara itu, kami juga sudah konsul ke Dr Dwi. Beritanya memang kurang menggembirakan. Setelah mata Joan di test, ternyata penglihatannya masih belum baik. Padahal bayi 3 bulan harusnya sudah bisa melihat dengan jelas. Jadi, kami diminta konsultasi ke Dr Lumongga di RS Mata Aini. Kami juga diminta untuk melakukan test BERA di RS Cipto untuk test pendengaran Joan. Terakhir, yang juga kurang menggembirakan, ternyata dr Dwi juga punya kecurigaan yang sama dengan dr Sri, mengenai kranio stenosis. Jadi, dr Dwi minta kami melakukan CT-Scan supaya hasil terbaru bisa dilihat. Kemungkinan, kalau memang benar kranio stenosis, diperlukan operasi untuk memperbaiki struktur kepalanya.

Jadi, kami masih perlu berdoa banyak supaya Joan bisa sembuh total. Pencobaan ini berat sekali bagi kami, tapi kami juga yakin kalau Tuhan punya rencana yang terbaik bagi kami, terutama bagi Joan. Kami perlu doa dari semua orang, jadi tolong doakan kami ya!

Bulan depan, waktu Joan 4 bulan, cerita ini akan dilanjutkan lagi.

– irving