Pengalaman Paskah Joan – Demam Tinggi

Selama minggu Paskah, Joan demam tinggi. Awalnya, Joan batuk terus menerus tanpa berhenti, kurang lebih selama 2-3 jam. Kami bisa merasakan batuknya sangat dalam dan membuat badannya terguncang. Kami coba ngasih Joan air mineral, inhalasi, pijitan, tapi dia tetap batuk terus menerus. Dia juga tidak mau minum susu. Joan batuk sejak jam 6 sore, dan pas jam 11 malam suhu tubuhnya naik jadi 39 C karena batuk terus menerus. Aku dan Irving meraka takut dan kami langsung membawa Joan ke gawat darurat RS Thamrin. Puji Tuhan, dokter jaga di sana (Dr Bob) adalah dokter yg sudah kenal Joan karena dia yg menerima Joan di RS Thamrin pertama kali dulu. Tiba2 Joan berhenti batuk dan mau makan biskuit. Dr Bob melihat Joan agak baikan dan minta kami menunggu di luar gawat darurat krn dia sedang menangani pasien demam berdarah. Setelah pasien tersebut dipindahkan tempatnya, baru Joan diperiksa. Dr Bob bilang Joan batuk2 krn banyak dahak di paru2nya. Dia minta kami menginhalasi Joan setidaknya 2 kali sehari.

Sehari setelahnya, Joan masih tetap demam. Malamnya, kami kasih Joan Tempra dan kami kompres dengan air. Dia tetap tidak mau minum susu, tapi dia mau makan biskuit. Kami takut dia kekurangan cairan, jadi kami kasih banyak susu dikombinasikan dengan biskuit.

Kami akhirnya bawa Joan ke Dr Firman besok paginya. Pada waktu kami sampai di rumah sakit, Joan sudah demam 40 C. Perawat langsung memberikan Stesolid, supaya Joan tidak kejang. Dr Firman ngasih resep kombinasi boat untuk antibiotik dan penurun demam. Dr Firman juga ngasih obat untuk Joan supaya dia bisa mengeluarkan dahaknya, dan satu obat Dumin yang harus diberikan kalau Joan di atas 39 C. Dia juga minta Joan diinhalasi setidaknya 3 kali sehari.

Kami pastikan Joan minum obatnya, dan kami inhalasi 3 kali sehari, plus air dan susu. Kalau dia tidak mau minum susu, kami paksa dengan kombinasi susu dan biskuit dan dikasih pake sendok.

Sayangnya Joan alergi dengan obatnya. Bibirnya jadi sangat merah. Ketika kami menyadarinya, kami hentikan obat demamnya, dan kami kasih Tempra lagi. Kami juga cek suhu badan Joan tiap 1 jam, dan kalau lebih dari 39 C, kami kasih obat Dumin dan kami kompres dengan air.

Kami bawa lagi Joan ke Dr Firman besoknya, dan Dr Firman mengganti obat Joan. Puji Tuhan, Joan mulai membaik.

Dua hari kemudian, Joan demam lagi. Kali ini kami bawa dia ke Dr Dwi, krn memang kami udah harus bawa Joan ke Dr Dwi untuk konsultasi ruitn. Dr Dwi minta kami inhalasi Joan setidaknya 3 kali sehari dan obat inhalasinya ditambah 1 lagi (Atrophen). Dia juga ngasih 2 obat untuk demam dan antibiotik. Kami juga minta fisioterapi Joan untuk datang setiap hari, karena dia bisa memijit Joan dan membantuk mengeluarkan dahaknya.

Puji Tuhan, 3 hari kemudian Joan membaik dan suhu tubuhnya stabil. Kami tetap berikan inhalasi dan pijitan.

Selama hari2 itu, aku merasa panik. Tapi Irving membantuku untuk tenang dan terus berdoa. Semakin aku tenang, Joan juga semakin tenang dan semakin sembuh.

Selama hari2 itu, kami juga melihat banyak sekali berkat Tuhan. Biasanya, anak2 yg demam sampai 40 C akan mengalami kejang2. Tapi Joan tidak. Dr Firman bilang, mungkin krn Joan dapat obat epilepsi, jadi ambang batas kejang dia juga tinggi. Sebenarnya, Dr Firman agak marah juga krn kami menghentikan obat demam Joan sewaktu Joan alergi. Tapi Puji Tuhan, demam Joan bisa turun biarpun hanya dengan obat Tempra biasa. Dan walaupun Joan tidak mau ngedot dan minum susu, dia tetap mau makan biskuit. Jadi, kami kombinasikan biskuitnya dengan susu cukup banyak (1 biskuit dengan 30 cc susu) dan kami dengan sabar memaksa Joan untuk makan biskuit sampai 10 biskuit sehari. Dan Puji Tuhan, Joan tetap bisa tidur dengan nyenyak setiap hari.