Rencana Joan ke Nagoya, Jepang

Tanggal 11 Mei nanti, kami mau bawa Joan ke Nagoya, Jepang. Di sana ada acara Miracle Rally dari Benny Hinn. Sebenarnya sudah lama rencana ini diatur, sudah sejak bulan lalu, tapi baru sekarang kami masukkan ke website ini. Kami mau mohon doa dari semuanya, supaya semuanya lancar dan Joan bisa mendapatkan mujizat kesembuhan sempurna.

Terus terang, kami benar2 tidak kenal Benny Hinn sebelumnya. Pernah sih kami mendengar namanya disebutkan bbrp kali oleh pendeta yg khotbah di Gereja Duta Injil. Ide awalnya datang dari Pak Samin Tan, direktur di kantornya Eva. Sejak dulu dia sangat memperhatikan Joan, mungkin karena dia punya anak yg seumur Joan. Dia udah bbrp kali menawarkan untuk membawa Joan ke dokter di Singapura atau di Australia, minimal untuk mendapatkan pendapat kedua (second opinion) dan pembanding dengan diagnosis dokter di sini. Tapi kami selalu menolak, karena menurut kami semua dokter akan memberikan pendapat yg sama. Kami sudah pernah kok memberikan data2 Joan ke perwakilan Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapore di Jakarta, dan menurut pendapat dokternya, semua tindakan medis yg diterima Joan sudah pas. Apalagi, kami kan sekeluarga banyak dokter, dan menurut mereka usaha dokter sudah maksimal.

Nah, pertengahan April kemaren, tiba2 Pak Samin menawarkan ke Eva untuk membawa Joan ke Nagoya, Jepang, karena ada acara dari Benny Hinn. Awalnya kami diberitahu acaranya bulan Juni dan kami diminta persiapkan semuanya. Sibuklah aku dan Eva mencari informasi mengenai acara ini. Aku ketemu website Benny Hinn dan ternyata acaranya tanggal 13-14 Mei 2005. Jadi, kami harus mempersiapkan banyak hal dalam waktu yang lumayan terbatas. Dan disinilah kami mulai merasa bagaimana Tuhan membuka jalan bagi kami dalam segala hal, karena Dia sudah memberikan bantuan buat kami melalui banyak orang.

Yang pertama kami harus siapkan tentu saja paspor. Kebetulan (walaupun aku lebih suka bilang “Tuhan sudah mengatur”) aku lagi mengurus perpindahan kami dari Depok ke Jakarta. KTP ku dan Eva udah jadi, tinggal menunggu Kartu Keluarga, yang ternyata juga cepat sekali mengurusnya. Setelah itu, kami langsung mengurus paspor Eva dan Joan. Karena aku udah punya paspor, kami hanya membuat paspor untuk Eva dan rencananya mau menempelkan Joan di paspor Eva. Setelah di cek ke yang ngurus paspor, ternyata di Jakarta sekarang udah ngga bisa lagi buat paspor tempel. Jadi, Joan harus buat paspor sendiri, dengan biaya yg jauh lebih mahal. Tapi Tuhan sudah mengatur semuanya untuk kami. Biarpun uang kami terbatas, tapi masih cukup untuk paspor Joan dan Eva. Semua proses juga berjalan cepat, termasuk foto paspor Joan. Tadinya kami takut sekali, gimana caranya membuat foto paspor Joan, krn kan Joan belum bisa duduk. Tapi ternyata semuanya bisa jalan bagus.

Setelah punya paspor, kami mulai mengurus sisanya: tiket pesawat, hotel, dan visa. Tiket pesawat ternyata juga tidak terlalu susah. Yang kami tahu hanya ada 3 penerbangan dari Jakarta ke Nagoya: Garuda Indonesia dengan rute Jakarta – Denpasar – Nagoya, Cathay Pacific dengan rute Jakarta – Hongkong – Nagoya, dan Singapore Airlines dengan rute Jakarta – Singapura – Nagoya. Aku bilang ke Eva, karena kita bawa Joan, kita harus nyari rute yg nyaman. Karena aku udah sering banget ke Singapura, aku tau kalo airport Changi itu nyaman sekali. Jadi, aku lebih memilih naik Singapore Airlines. Lagian, dengan nama besar Singapore Airlines, harusnya kami tidak akan mengalami hal2 yg tidak menyenangkan selama perjalanan. Jadi, kami laporkan ke Pak Samin, dan dia minta salah satu travel untuk mengurus tiket Singapore Airlines kami.

Selanjutnya, visa. Untung kedutaan Jepang di Indonesia punya website. Jadi, kami langsung bisa cek jadwal buka untuk mengurus visa, syarat2nya, dan bisa langsung mendownload formulirnya. Syarat2nya sih ngga aneh2 banget, ada surat keterangan kantor, foto, formulir, paspor, kartu keluarga, dan jadwal perjalanan. Yang agak sulit kami sediakan itu rekening koran, krn kami tau, pihak kedutaan pasti ingin memastikan bahwa uang kami cukup dan kami tidak akan “terlantar” di Jepang. Jadi, kami harus pastikan uang di dalam account kami cukup besar. Jadi, Eva nelpon Mama Eva, dan Mama Eva mau meminjamkan uang sebentar untuk mengisi account kami. Dan yang terpenting, dan ini juga karya Tuhan yang besar, Eva mendapatkan kenaikan gaji dan bonus yg lumayan besar, yang membuat account kami jadi cukup untuk banyak hal. Terus terang aja, banyak yang harus kami urus untuk kepergian ini, biarpun Pak Samin yang akan membayar hampir semua hal. Tapi tetap kami harus menyediakan uang cash untuk di jalan nanti, untuk bayar paspor, untuk fiskal, hotel, dll. Jadi, Tuhan benar2 sudah menyediakan uang yang kami butuhkan tepat pada saatnya. Puji Tuhan!

Selanjutnya, hotel. Kali ini, Tuhan benar2 menunjukkan bagi kami kuasaNya. Karena kami benar2 buta soal Jepang, kami mulai mencari hotel di Internet, tapi semua hotel tercatat penuh. Aku dan Eva mulai bertanya ke teman2 kami yang pernah ke Jepang. Aku bertanya ke Yustin, yang pernah tinggal dengan suaminya di Jepang cukup lama. Ternyata, waktu dia iseng mencari di Internet, dia ketemu satu keluarga orang Indonesia yang tinggal di Nagoya: Bonny, Rossy, dan Aika. Puji Tuhan! Mereka punya website untuk Aika (anak mereka) di Internet, dan Rossy juga punya website sendiri. Jadi, aku mencoba menghubungi mereka, tapi di website mereka tidak ada alamat email. Rossy punya album foto di Yahoo, jadi aku coba menebak alamat emailnya dari album foto itu. Puji Tuhan, ternyata Rossy langsung membalas besoknya. Yang menarik, dia bilang, sebenarnya email ini dia baca hanya 1 bulan sekali. Aku yakin ini bukan kebetulan, tapi memang Tuhan sedang bekerja untuk kelancaran rencana kami.

Dengan bantuan Rossy dan suaminya, Bonny, kami bisa mendapatkan gambaran yg lebih baik mengenai kondisi kota Nagoya. Bonny mulai mencarikan kami hotel, dan ternyata hotel memang susah sekali di dapat karena di prefektur Aichi (termasuk juga kota Nagoya) sedang ada International Expo. Bonny hanya bisa mendapatkan 2 hotel yang terpisah, masing2 2 hari. Kami kan perlu menginap 4 hari di Jepang. Nah, tiba2 Eva mendapat ide, bagaimana kalau kami mencari hotel di airport, krn di airport pasti ada hotel. Dan ternyata memang benar, ada 2 hotel di airport. Kami coba hubungi hotel Comfort di airport, dan memang ada kamar untuk kami selama 4 hari penuh. Puji Tuhan! Kami hubungi Bonny lagi lewat telepon (terima kasih Indosat karena ada hubungan flat IDD 016 lewat handphone Matrix) dan dia juga bilang itu ide yg bagus sekali. Krn hotelnya di airport, kami ngga perlu terlalu repot membawa koper kami. Seandainya kami dapat hotel di tengah kota Nagoya, pasti kami harus bawa koper kami naik kereta, dan pasti cukup repot. Naik taksi sih bisa, tapi mahal banget lho, bisa sampe sekitar 1,5 juta rupiah sekali jalan. Dari hotel airport itu, ngga susah ke Nagoya nya, krn bisa naik kereta sekitar 30 menit. Puji Tuhan yang sudah membuka jalan buat kami.

Sekarang, kami tinggal mengurus beberapa hal sisa. Tentu saja kami harus mikirin soal koper. Maksimum aku cuman sanggup bawa 2 koper besar, krn kan entar Eva harus gendong Joan. Jadi, kami harus pastikan semua baju Joan, peralatan Joan dan baju2 kami bisa muat di 2 koper. Di sini juga kami rasakan kuasa Tuhan sedang bekerja. Kami bisa mendapatkan kompor listrik kecil dari Imel, teman kerja Eva. Kami juga berhasil mendapatkan peralatan inhalasi (nebulizer) portable yang kecil dengan harga yang sangat murah. Tadinya kami cari nebulizer ini di banyak apotik, tapi cuman ada yg merek Omron yg mahal (3 juta lebih). Kami udah putar2 Jakarta, tapi ngga dapat. Akhirnya kami datang ke Pasar Pramuka, padahal saat itu udah gelap (jam 6 lewat) dan udah pada mau tutup. Ternyata, di satu2nya toko yg buka yg bisa kami ketemu, kami bisa dapatkan nebulizer merek Mabis yg kami cari2. Dan harganya murah banget. Tadinya kami sempat takut juga, krn kami sering dengar soal barang2 dan obat palsu di Pasar Pramuka. Tapi kami serahkan aja semuanya sama Tuhan. Tuhan udah bisa membuat kami ketemu merek Mabis yg kami cari di Pasar Pramuka, di satu2nya toko yg buka saat itu. Kami yakin, Tuhan juga yg akan membuat semuanya lancar.

Kami juga beli ransel dan tas pinggang yang entar bakalan aku pake, supaya kami ngga usah bawa2 tas untuk di tenteng. Semua perlengkapan dan pakaian yg bakalan kami perlu di perjalanan, masuk ke ransel. Di tas pinggang entar barang2 yg penting2, seperti uang, paspor, tiket, dll.

Pak Samin juga menghubungkan kami dengan pendeta Indonesia di Nagoya, yang jadi salah satu panitia acara Benny Hinn. Dia bantu kami untuk mengerti situasi di sana. Kami diminta beli radio FM di Jepang supaya bisa mendengarkan terjemahan acara dalam bahasa Indonesia. Kami juga dijelaskan bahwa nanti di sana bakalan cukup padat acaranya. Kalau tadinya kami berencana mau datang 2 jam sebelum supaya bisa duduk agak di depan, mungkin kami harus datang lebih dari 4 jam sebelum. Mungkin 1 hari sebelum entar aku bakalan datang ke lokasi acara, supaya bisa menyesuaikan diri dulu dengan kondisi di lapangan.

Pak Samin dari awal mau mengusahakan supaya kami bisa tatap muka one-to-one langsung dengan Benny Hinn, walaupun dia akui mungkin agak susah. Tapi dia masih akan tetap mengusahakan.

Di tengah semua persiapan kami ini, kami juga ngga lupa menyiapkan hati kami. Sebuah perubahan besar perlu terjadi, krn kami harus bisa percaya sepenuhnya bahwa Joan akan mendapatkan mujizat kesembuhan. Gimanapun juga, sulit sekali mengubah pikiran kami bahwa secara medis memang Joan tidak akan bisa sembuh. Kami harus bisa yakin 100%, krn kami juga takut, keragu2an kami akan menghalangi mujizat Tuhan. Saat seperti inilah, pembicaraan2 kami dengan orang2 sekitar kami sangat membantu sekali. Mama dan Papa Eva sangat senang sekali dengan rencana kami dan berjanji mendoakan. Papa dan Mama ku juga mendukung dan terus berdoa. Kami juga ngasih tau Tante De, Pak Engah (dan Engah). Aku juga hubungi Kak Astrid, yang sangat senang sekali dengan kabar ini. Dia tau sekali soal Benny Hinn dan kuasa penyembuhan yang dia punya. Kak Astrid pernah datang ke acara Benny Hinn di Sidney waktu kak Astrid lagi kuliah di sana. Dan dia bilang, banyak perubahan pribadi yang dia rasakan krn datang ke acara itu. Kak Astrid minta kami berdoa puasa, untuk meneguhkan iman kami dan meminta kesembuhan untuk Joan.

Aku juga ada cerita ke orang2 lain, yang surprisingly, pada tau soal Benny Hinn. Waktu aku cerita ke Daniel (atasanku di kantor), ternyata dia jadi cerita soal ibunya yg datang ke acara Benny Hinn di Singapura baru2 ini dan melihat sendiri mujizat di sana. Aku juga cerita ke Intan (teman kantorku), yang ternyata ayahnya fans berat Benny Hinn dan tau soal mujizat2 yang dilakukan Benny Hinn.

Semua ini membuat kami yakin, bahwa Tuhanlah yang sedang melapangkan rencana perjalana kami ke Nagoya. Dan karena itu kami semakin yakin, bahwa akan terjadi sesuatu yang indah di Nagoya, bahwa Joan akan sembuh sempurna. Sudah banyak hal terjadi walaupun kami baru mengurus persiapan. Kondisi keuangan kami yang terbantu dengan kenaikan gaji Eva plus bonusnya, tepat pada saat kami sangat membutuhkannya (termasuk “pinjaman” dari Pak Surya, direktur di kantor Eva, sewaktu kami sangat kekurangan uang tunai). Urusan paspor kami yang lancar. Tiket yang bisa kami dapat dengan rute yg aku sudah kenal (termasuk bisa melihat airport di Nagoya lewat Internet). Hotel airport dari ide Eva, yang aku yakin diilhami dari Tuhan. Keluarga Bonny, Rossy dan Aika yang sangat membantu kami, biarpun kami sama sekali tidak saling mengenal. Pertemuan kami dengan keluarga ini lewat Internet benar2 diatur oleh Tuhan. Informasi mengenai Benny Hinn yg kami dapatkan dari orang2 yg tidak terduga (Pak Samin, Daniel, Intan). Dan dukungan dari keluarga kami, Papa-Mama Eva, Papa-Mama Irving, Tante De, Kak Inge, keluarga Pak Engah, dan tentu saja, dari Kak Astrid. Dan bantuan dari banyak sekali orang. Kami yakin, semuanya ini adalah karya Tuhan buat keluarga kami. Terutama, kami bisa melihat bahwa bukan kekuatan dan kemampuan kami yang penting, tapi pernyataan Tuhan buat anak kami Joan. Ditengah-tengah ketidaksempurnaannya, begitu banyak malaikat-malaikat penolong disekitarnya yang melakukan semuanya untuk Joan. Kami dapat merasakan dekatnya hubungan Joan dengan Tuhan.

Jadi, yang terpenting, kami akan tetap mempersiapkan hati kami, supaya kami bisa percaya bahwa Joan bisa sembuh karena mujizat Tuhan. Jangan lupa untuk selalu mendoakan kami, supaya semuanya lancar, supaya iman kami kuat, dan supaya Joan bisa mendapatkan mujizat kesembuhan.

Terakhir, kami cuman ingin bilang: Terpujilah nama Tuhan Yesus Kristus!