Perjalanan ke Nagoya: Hari kedua

Catatan: Artikel ini dibuat setelah kami sudah pulang di Jakarta beberapa lama.

Kami bangun pagi agak telat, mungkin krn masih capek setelah perjalanan panjang kemaren. Kami malas sarapan dari hotel, jadi kami masak indomie pake kompor listrik. Lumayan lah untuk ganjal sampe siang. Toh kami mau makan siang agak cepat, sebelum berangkat ke acara Benny Hinn.

Aku sempat turun ke lobby hotel mau coba pake komputer dan internet, tapi ternyata selalu ada orang yg pake. Iseng2 aku liat2 ruangan di sekitar lobby, dan aku liat ada mesin cuci. Aku tanya ke pegawai hotel gimana cara pakenya. Trus aku cuci pakaian kotor kami di sana. Lumayan juga bisa cuci2 dengan mudah, dan udah kering karena pake mesin pengering. Setidaknya kami ngga perlu khawatir kehabisan pakaian bersih =)

Kami keluar sekitar jam 12, ke food court airport. Kami makan siang dulu di sana, supaya kondisi fisik oke. Kami juga beli makan malam dibungkus, soalnya acara Benny Hinn kan dari jam 5 sampe jam 9, takutnya ngga sempat makan malam. Setelah makan, kami langsung ke stasiun kereta di airport. Karena kemaren udah pernah nyoba, jadinya ngga bingung2 lagi deh. Langsung beli tiket, dan langsung naik kereta berikutnya ke Kanayama. Di Kanayama juga udah tau harus nyebrang stasiun, beli tiket lagi, trus naik kereta ke Kasadera.

Dari Kasadera, kami langsung jalan ke Rainbow Hall. Ternyata memang tidak jauh, dan biarpun kami pake baby stroller Joan, tetap ngga masalah kalo naik turun, krn selalu ada ramp untuk orang cacat. Memang Jepang sangat maju dalam hal accessibility, termasuk lift di stasiun kereta, ramp di hampir semua tempat, dll.

Sampe di Rainbow Hall, kami sempat bingung lagi. Mau masuk dari mana? Hampir semua tulisan Jepang. Ada tulisan bahasa Inggris, tapi ditujukan untuk rombongan dari Brazil dan orang2 yg perlu penerjemah dari bahasa Inggris. Lagi kami bingung2, tiba2 ada satu orang yg bertanya ke kami, dalam bahasa Inggris, apakah kami datang untuk acara Benny Hinn. Waktu kami jawab ya, dia tanya kami dari mana. Kami bilang, dari Indonesia. Dia langsung tersenyum dan menjawab dalam bahasa Indonesia. Ternyata dia orang Indonesia, namanya Linus, salah satu panitia untuk rombongan orang Indonesia. Dia langsung membimbing kami untuk ke counter tiket untuk mengambil tiket kami, yang sudah disediakan krn aku sudah mendaftar lewat email. Trus dia bantu kami untuk masuk ke dalam ruangan.

Ternyata ruangannya besar sekali, mungkin kapasitas 5000 orang. Bentuknya bundar seperti Plenary Hall JHCC. Kami masuk dari lantai atas dan turun ke bawah harus lewat tangga. Tapi krn dibantu sama Linus, jadinya ngga masalah. Kami pilih tempat duduk di lantai paling bawah dan dekat pintu keluar, supaya kalo Joan rewel bisa kami bawa ke luar. Linus juga bantuin nunjukin tempat ngambil air panas, untuk makanan dan minuman Joan.

Kami sampe sekitar jam 2.30, sementara acara baru mulai jam 5. Jadi, kami duduk2 aja di sana, sambil ngasih Joan makan dan minum. Ada pendeta Joko, orang Indonesia, yg datang ke tempat kami duduk, dan mendoakan Joan. Dia dan Linus baru tau kalo kami itu datang langsung dari Indonesia dan bukan penduduk Jepang. Rombongan orang Indonesia yg datang ke acara ini adalah orang2 Indonesia yg bekerja atau belajar di Jepang. Jadi, mereka cukup surprise juga waktu tau kami datang jauh2 dari Indonesia khusus untuk acara Benny Hinn.

Acara dimulai sekitar jam 5. Awalnya dipimpin oleh song leader dari Jepang, jadi semuanya pake bahasa Jepang termasuk lagu2nya. Ada bbrp lagu yg kami tau, jadi kami nyanyikan bahasa Indonesia atau bahasa Inggrisnya. Tapi sebagian besar memang dalam bahasa Jepang. Ketika acara diserahkan ke tim Benny Hinn, baru mulai menggunakan bahasa Inggris, dengan seorang translator bahasa Jepang. Lagu2 tetap dalam bahasa Jepang, tapi sudah semakin banyak lagu yg kami kenal krn kami tau bahasa Inggrisnya.

Setelah acara sekitar 1 jam, baru Benny Hinn masuk ke panggung. Dia berkhotbah mengenai kesembuhan, yang harus dimulai dari kesembuhan rohani dulu, yaitu kita menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat kita. Baru setelah itu kita bisa mendapatkan kesembuhan jasmani, ketika darah Kristus menghapus dosa dan menyembuhkan penyakit kita.

Dia membawa tim pendoa yg akan mendoakan orang2 yg sakit yg datang saat itu. Jadi, Benny Hinn tetap ada dipanggung, dan tim doanya yg turun ke tempat jemaat untuk mendoakan. Sementara itu, Benny Hinn meminta setiap orang untuk berdoa untuk kesembuhan masing2. Aku dan Eva tentu saja mendoakan kesembuhan Joan, sambil menumpangkan tangan di kepala Joan. Kami berdoa masing2 dan aku sampai menangis juga sewaktu berdoa. Rasanya seperti melepaskan beban sewaktu berdoa pada Tuhan. Kami benar2 serahkan semuanya ke tangan Tuhan.

Tim pendoa Benny Hinn ada bbrp orang, dan ada 2 orang yg mendatangi Joan dan mendoakan Joan. Kami sama2 berdoa, dan salah satu dari mereka juga bilang ke kami, “Don’t give up. Don’t ever give up.” Dia mungkin bisa rasakan beban yg ada di dalam hati kami dan dia tidak mau kami menyerah mendoakan Joan.

Benny Hinn dari panggung meminta orang2 yg disembuhkan untuk maju ke depan dan bersaksi, dan banyak juga yg maju ke depan. Satu per satu mereka diminta untuk menjelaskan apa penyakit mereka dan apa yg mereka rasakan sekarang. (Catatan: krn udah agak lama, aku udah ngga ingat detail penyakitnya satu per satu.) Ada yg bersaksi sambil menangis krn penyakitnya yg sudah lama dia derita bisa sembuh. Ada juga yg diminta melompat, berlari, bungkuk, atau merangkak untuk membuktikan kalo penyakitnya sudah sembuh. Puji Tuhan!

Keseluruhan acara baru selesai sekitar jam 9.30 malam yang ditutup oleh Benny Hinn dengan doa. Agak molor krn banyak sekali yg maju ke depan untuk bersaksi mengenai kesembuhan mereka. Itupun harus dipotong oleh Benny Hinn biarpun masih banyak yg antri untuk naik ke panggung bersaksi.

Sewaktu pulang, lagi2 kami dibantu oleh Linus dan teman2 orang Indonesia yg lain, terutama krn untuk kembali ke stasiun Kasadera kami harus naik tangga, padahal kami bawa baby stroller Joan. Di stasiun Kasadera juga kami ketemu rombongan orang2 Indonesia, jadi sempat ngobrol juga sebentar. Udara dingin sekali, menurut ramalan cuaca tadi pagi sih harusnya sekitar 12 derajat Celcius. Aku dan Eva udah pake jaket kami, sementara Joan kami bungkus berlapis2 di baby stroller nya.

Karena sudah malam, keretanya juga sudah makin jarang. Agak lama juga kami menunggu di Kasadera. Waktu kami tukar kereta di Kanayama juga begitu, baru dapat kereta sekitar jam 10.30 malam, itupun kereta yg biasa yg berhenti di semua stasiun. Yg uniknya, waktu kami lagi menunggu kereta, ada seorang Jepang yg mendatangi kami dan minta ijin untuk mendoakan Joan. Waktu dia berdoa, dia sambil memegang Joan. Kami sendiri ngga ngerti doanya apa, soalnya dia pake bahasa Jepang. Dia aja waktu minta ijin cuman pake bahasa isyarat =)

Krn keretanya berhenti hampir di semua stasiun, kami baru sampe di stasiun airport sekitar jam 11.30 malam. Kami sempatkan nelpon ke Medan dulu, pertama ke Papa Mama ku, trus ke Papa Mama Eva. Kami nelpon dari telepon umum, pake koin 100 yen. Karena telepon internasional, ya otomatis perlu banyak koinnya, untung kami punya =)

Sampe di hotel, kami langsung ngasih Joan makan dan istirahat. Terus terang, Tuhan bekerja luar biasa menjaga Joan hari ini. Joan sama sekali ngga rewel selama acara. Dia juga ngga makan selama acara, terakhir makan sebelum acara dimulai, dan baru makan lagi setelah kami sampai di hotel, 6 jam lebih. Dan dia juga ngga rewel di udara yg dingin sekali, padahal kami aja udah kedinginan banget. Tuhan benar2 menjaga kami dan Joan dalam rencana kami hari ini. Puji Tuhan!