Joan 2 tahun 11 bulan

Tanggal 22 Juni kemaren, Joan genap 2 tahun 11 bulan. Ngga terasa ya, 1 bulan lagi Joan udah 3 tahun. Puji Tuhan! Banyak sekali berkat Tuhan yang kami rasakan bulan ini dalam kehidupan Joan, dan kami rindu sekali untuk menceritakannya kepada semua orang =)

Joan bulan ini berat badannya sudah 14 kg, naik sedikit dari bulan lalu. Sepertinya ini efek dari susu baru yg dia minum, susu kotak dari Nutricia (Nutrilon Royal) yang tinggal minum. Joan suka sekali susu ini, mungkin karena bau nya tidak terlalu menyengat seperti susu bubuk biasa. Kondisi fisik Joan juga baik sekali, sudah semakin banyak gerakan yang dia lakukan. Kepala nya sudah semakin aktif bergerak ke kiri ke kanan, walaupun sekarang dia kembali lagi sering melihat ke kanan seperti tahun lalu. Tangan dan kaki nya juga semakin aktif bergerak, apalagi kalau ada sesuatu yang ngga dia suka, tangannya bisa mendorong dan kakinya bisa menendang =)

Ekspresi muka nya juga sudah semakin banyak, dan dia juga semakin sering senyum dan tertawa, walaupun masih tanpa suara. Kalau dulu, agak susah tuh membuat dia senyum dan ketawa. Senang sekali melihat anak kami yg cantik ini dengan senyum dan tawa nya yg manis sekali! Puji Tuhan!

Terakhir kami ke dokter Dwi, dokter meminta kami melakukan tes darah untuk mengecek kadar obat di darahnya. Sepertinya dokter Dwi agak khawatir krn dosis obat Joan sudah tinggi, tapi kejang nya masih tetap ada walaupun sedikit. Jadi, dia mau tau apakah penyerapan obat di tubuh Joan ada masalah atau tidak. Kami cek ke bagian Lab di RSPI, ternyata tes darah itu harus dilakukan di Singapura atau Amerika, jadinya bakalan makan waktu 3 minggu sampai 1 bulan. Wah!

Sebelum kami sempat tes darah, Joan sakit flu dan pilek. Krn Dr Dwi lagi cuti, kami bawa Joan ke Dr Firman di RS Thamrin. Setelah itu, sepertinya obat dari Dr Firman ngga cocok dengan Joan, krn deman Joan bisa turun dengan cepat, tapi Joan jadi sering batuk2 kering. Setelah bbrp hari, kami terpaksa menghentikan obatnya. Kami bawa Joan ke Dr Dwi, tapi saat itu Joan sudah sehat, jadi tidak ada masalah.

Nah, yang menarik, waktu kami bawa ke Dr Dwi, kami juga ceritakan kalau selama Joan sakit, dia sama sekali ngga ada kaget. Dr Dwi bilang itu mungkin krn asupan makanan Joan yg kurang selama dia sakit. Dia justru jadi membicarakan pengobatan alternatif untuk Joan, menggunakan metode Ketogenic Diet. Dia sendiri kurang bisa menjelaskan, jadi dia merujuk kami ke Dr Damayanti di RSCM untuk konsultasi mengenai Ketogenic Diet ini.

Kami sampai saat ini belum sempat konsultasi ke Dr Damayanti. Tapi melihat bbrp sumber di Internet, Ketogenic Diet memang adalah alternatif pengobatan untuk epilepsi, selain penggunaan obat2an. Diet ini mengontrol makanan yg dimakan, tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Tujuannya, supaya kadar gula di tubuh ditekan serendah mungkin, sehingga tubuh mengira sedang dalam kondisi kelaparan, dan akibatnya, menggunakan lemak sebagai sumber energi menggantikan gula. Pembakaran lemak ini menghasilkan Keton. Nah keton ini lah yg mengubah metabolisme tubuh sedemikian sehingga bisa menekan epilepsi. Para ahli sendiri belum bisa menemukan cara kerja detailnya, tapi secara statistik, 1/3 peserta Ketogenic Diet bisa hilang total kejangnya, 1/3 lagi mengalami perbaikan (walaupun masih ada kejang), dan 1/3 lagi sama sekali tidak cocok dengan pengobatan ini.

Ketogenic Diet ini juga ada efek samping nya. Hal ini lah yang harus kami bicarakan dengan Dr Damayanti, krn salah satu nya adalah batu ginjal. Padahal, dari keluarga ku dan keluarga Eva, sama2 ada sejarah batu ginjal. Rencana nya, secepatnya kami akan bertemu dengan Dr Damayanti untuk membicarakan detail nya.

Mohon doa nya terus untuk Joan ya. Kami tidak tau apakah Ketogenic Diet ini benar2 jalan dari Tuhan atau tidak. Kami akan terus berdoa, supaya Tuhan menunjukkan rencana nya bagi kami. Tuhan memberkati.